Dibilang Priyayi, Padahal Pernah Jualan Semangka Di Alun-Alun

Kamis, April 11, 2013 1
picture by: google.com

Semua kehidupan dimulai dari titik nol. Tidak ada kemuliaan dan kesuksesan yang "ujuk-ujuk" atau "siap jadi" tanpa kesusahan, perjuangan, dan pengorbanan. Jalan halal dan keridhaan Allah yang akan mengabadikan kesuksesan. Sukses, butuh proses.

Teringat sms kiriman salah seorang teman yang berkata bahwa saya adalah orang dari kalangan "priyayi". Istilah priyayi kembali saya dengar dari teman tersebut setelah sebelumnya saya sering mendengar dari dongeng mbah buyut semasa SD. Beliau bercerita tentang para priyayi dan londo pada jaman penjajahan. Ketika itu saya tidak tahu apa itu priyayi. Semangat mbah buyut untuk menceritakan jaman penjajahan Belanda menutupi ketidaktahuan saya. Akhirnya saya hanya membayang-bayangkan para kyai (baca: pemuka agama islam) dan tentara Belanda yang berkuasa di jaman itu. Haha. Imaginasi yang dong-dong. Hal yang paling keterlaluan adalah ketika saya baru tahu arti priyayi secara benar setelah mendapat sms dari teman saya tadi, hehe. Langsung saya bertanya, "apa itu priyayi?" Dan ternyata priyayi adalah bahasa Jawa dari istilah "bangsawan". Haha, tambah isin, wong jowo sing gak njawani iki jenenge.
Wah saya dibilang keturunan darah biru, senyum-senyum aja sambil mengamini. Saya balas sms kawan saya, karena saya menganggap itu adalah doa baik, maka saya amin-kan pada yang Maha Mengabulkan, "aamiiin....", begitu saya membalas sms sambil tersenyum.
"Emang iya kok.." kata teman saya itu sok tahu, hehe.
Dasar temanku yang cantik satu itu emang bikin gemes. Tambah senyum saja saya ini. Sesungguhnya pandangan orang lain atas kesuksesan kita adalah jauh lebih berarti daripada pandangan orang lain tentang kesusahan kita. Artinya, tak perlulah orang lain melihat jatuh-bangun terlukanya kita dalam proses meraih kesuksesan. Jatah atau bagian orang lain hanya menikmati kesuksesan kita dengan pandangan mereka. Biarlah behind the scene-nya kita sendiri yang memiliki. Biar menjadi urusan ibadah pribadi dengan Sang Pemilik diri. Proses, kita sendiri yang menikmati.

Sekilas tentang keluarga saya. Ayah saya anak kedua dari delapan bersaudara. Bertempat tinggal di desa terpencil dari ujung timur kota kelahiran saya, Ponorogo. Ayah seorang yang berjiwa wirausaha sejak kecil. Sampai-sampai beliau nekat belajar ke luar kota untuk mengunduh ilmunya dengan bekal pas-pasan. Jenjang D1 kewirausahaan Universitas Negeri Malang, disinilah beliau belajar. Dalam perjalanannya banyak kesusahan yang tak terhitung. Sejak kecil hidup ayah saya sederhana, selalu berbagi pada delapan saudara lainnya. Pun setelah lulus S1 dari Surabaya, ketika ayah pertama kali bekerja di sebuah sekolah dasar, sukuhan (baca: magang), dengan gaji 20.000 rupiah perbulan, masih sempat ayah gunakan ceperan itu untuk menyekolahkan adik kandung perempuannya yang sedang belajar di akademi kebidanan. Dari sinilah ayah selalu mengajarkan hidup sederhana dan rajin berbagi. Tidak berlebihan dan mampu mandiri berdikari, berdiri di atas kaki sendiri. Ayah tidak pernah bersikap memanjakan dan melenakan anak-anaknya, terutama saya sebagai anak pertama beliau. Saya harus tercetak mandiri dan mengayomi adik-adik. Secara otomatis ayah selalu membuat segala sesuatunya kondusif untuk kami belajar mandiri. Sejak kecil kami sebenarnya tidak terdidik manja meskipun sifat dasar kami adalah manja. Setiap ada kesempatan berwirausaha, ayah selalu mengajak saya terlibat di dalamnya. Seperti pasar ramadhan di alun-alun kota ketika saya masih SMP, saya diajak ayah untuk berjualan semangka di salah satu stan depan paseban. Selain itu, ayah juga sering mengajak saya membantu berjualan jamur di pengajian ahad pagi. Awalnya saya tidak terbiasa dan malu dengan kewirausahaan. Namun ayah saya yang menyulap semua ketidaknyamanan saya menjadi nyaman secara bertahap dan pelan-pelan. Seakan-akan ayah saya sedang bernyanyi lagu Bondan si Lumba-lumba yang liriknya seperti ini: tinggalkanlah gengsi, hidup berawal dari mimpi. Saya pun menjadi tersihir, sejak ayah saya mengajak berjualan, menumbuhkan jiwa wirausaha saya dari hal-hal kecil terlebih dahulu, yaitu dagang kecil-kecilan. Orang besar selalu diawali dari orang kecil, pertumbuhan badan juga seperti itu bukan? Manusia berbadan tinggi masa mudanya pasti pernah mengalami tinggi badan yang tidak tinggi.

Kerudung Jilbab Pelangiku

Jumat, April 05, 2013 0
Sebelum pulkam, aktifitas kulakan jilbab ataupun baju-baju pesanan sahabat-sahabat perempuan, para murobbiah, bulik-bulik, ibu guru, teman-teman ibuku, ibu-ibu tetangga rumah, dan semua perempuan terdekatku, agaknya sudah menjadi kebiasaan dua tahun terakhir di rantau. Kagak tau kenapa mereka lebih senang pesan jilbab dan baju di tempat yang jauh-jauh daripada mencari sendiri di tempat terdekat. Bela-belain transfer uang juga subhana Allah, luar biasa. Sebenarnya banyak alasan dari mereka. Ada yang alasannya karena bahan kain kerudungnya beda dan seneng modelnya karena ada yang lebar-lebar pake banget. Ada yang senang penampilan gaul dan alasannya karena baju model kodok jarang ada di Ponorogo. Tak sedikit dari mereka bilang karena tertarik apa yang aku kenakan. Intinya, aku senang jika ide dan gayaku bisa menginspirasi orang lain. Ya, karena mereka lah aku jadi senang bisnis kecil-kecilan dalam rangka membantu mendistribusikan barang dari Malang ke Ponorogo. Sistemnya sederhana sekali, mereka butuh dan aku bersedia, he he he. Aku senang jika melihat mereka senang dengan barang-barang yang kubawa. Semua ini sebagai selingan saja untuk menyalurkan hobi. Bukan pekerjaan utamaku, hanya dalam rangka senang membantu orang lain, tidak lebih. Berbagi kesenangan dengan orang lain. Aku senang melihat mereka lebih senang dariku.
Sore itu ada janji sama mbak kost untuk beli jilbab pelangi di Tanah Abang Malang, lumayan jauh dari kostan kami. Ternyata jilbab pelangi segiempat stok habis dan akan datang dalam waktu yang masih lama, kata penjaga Toko Tanah Abang. Pupuslah sudah untuk memiliki jilbab pelangi yang selama ini kuidam-idamkan. Sebenarnya sudah punya sejenis jilbab pelangi dari Bandung yang kudapatkan dari Malang Islamic Book Fair bulan lalu. Namun motifnya lebih kearah sembur menurutku. Tiba-tiba mbak kost mengingat satu tempat lagi yang menyediakan jilbab pelangi di Malang. Tempatnya tak jauh dari kostan kami. Kisah pencarian jilbab pelangi untukku ini, seperti kisah-kisah pencarian jodoh di film-film gitu, ceile. Saya dan mbak kost mencari-carinya di tempat yang jauh tidak ketemu, malah nemuin yang di deket-deket, wkwkwk. Ini namanya, gajah di pelupuk mata belum tampak malah sibuk mencari semut jauh-jauh.

Sahabat adalah Kebutuhan Jiwa

Kamis, April 04, 2013 0
Seperti catatan seorang sahabat hari ini, Life is Like a Birthday Cake. Terlihat enak warna-warninya di luar, namun sekalipun kita tak akan pernah bisa merasakan, jika kita tak memotong rotinya dan memakannya.

Nasib orang berbeda-beda, ada juga yang kebetulan sama nasibnya. Ada yang nampak menyenangkan, ada yang nampak menyedihkan. Semua yang nampak di luar jelas terlihat. Namun sekalipun kita tak akan pernah tau yang sejatinya, hingga kita masuk ke dalam dan melihat yang berada di dalam. Kita tak akan pernah tahu rasa roti yang nampak enak itu, jika kita "tak memotong rotinya, memakan, dan menikmatinya". Persahabatan itu adalah ketika kita makan roti tersebut, menikmati, serta merasakannya bersama-sama.

Rumus senasib itu tak selalu sama. Rumus kesedihan dan kebahagiaan juga tak selalu sama. Berbeda bukan berarti tak sama. Benar bila persahabatan yang sejati itu tidak ada. Tetapi persahabatan bukanlah kepentingan. Bukan karena kita tak senasib, lantas kita tak bisa saling mengerti. Bukan karena kita tak satu kepentingan, lantas kita bukan sahabat. Rasakan dengan hati yang terdalam. Persahabatan itu kesatuan ikatan batin, bukan kepentingan.

Sahabatku ada di mana-mana. Bukan kepentingan yang menyatukanku dengan mereka. Mereka selalu mengiringku jika kebetulan kepentingan kita sama. Mereka tetap mengiringiku, meskipun kita sibuk dengan kepentingan masing-masing. Jadi, bukan berarti jika kepentinganku dan mereka sudah tak sama, lantas mereka tak lagi kusebut sebagai sahabatku. Mereka tetap sahabatku, mereka selalu mengiringiku di hati dan di setiap bait doa. Mereka selalu sahabatku.

Bidadari Surga

Rabu, April 03, 2013 0
Ustadz Jefri Al Buchori (Alm.) - Bidadari Surga

source: http://www.youtube.com/watch?v=5z60fPo3q94

Subhana Allah... Suka dengan cara dakwah supel ala Uje...
Sudah supel kepada semua orang, bersikap baik kepada istri, shalih juga...
Semoga Ustadz penyeimbang ini bisa diambil pelajarannya yang berharga...
Dan pelajaran yang berharga itu tentu yang positif-positif saja...
Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama...
Kebaikan manusia akan terbukti setelah tiada :)




Tronton Raksasa

Jumat, Maret 29, 2013 0


Teringat saat ayah memaksaku untuk kursus mengemudi mobil. Tiga bulan lamanya aku kursus agar bisa nyetir mobil. Awalnya aku tidak setuju dengan paksaan ayah yang menuntutku harus bisa mengemudi mobil. Seorang wanita tidaklah wajib mengemudi mobil, pikirku. Namun apalah daya, aku hanyalah seorang anak yang harus mematuhi ayah tercinta.
Alasan ayah yang membuatku tak berdaya untuk menolak.
“Sunnah Rasulullah menyuruh mengajari anak-anaknya untuk berkuda. Di jaman Rasulullah memang menggunakan kuda, namun di  jaman kita sudah gak jaman kuda, adanya mobil. Berkuda dalam arti luas berarti bisa menunggang kendaraan yang membantu perjalanan jarak jauh. Nah, bisa juga nanti menggantikan ayah nyopir di saat mudik. Biar kalau ayah capek ada yang ganti. Atau jika Ayah sudah tidak ada, kalian (kamu, mama, dan adik-adik) bisa Ayah lepas dan tetap berpergian dengan aman menggunakan mobil.”
Menurut ayah di dalam mobil lebih aman jika harus ke mana-mana dengan jarak yang jauh.
Ketika itu barusan lulus dari kursus mengemudi awal tahun 2008. Langsung di uji deh tuh saya sama ayah. Waktu pergi ke pengajian ahad pagi. Pergi dari rumah ke tempat pengajian bersama ayah. Masih sedikit amatir, dredeg-dredeg gimana gitu rasanya jantungku, tapi harus berani. Dan akhirnya terbukti sampai ke parkiran, xixixi. Dan pulangnya dari ahad pagi, coba bayangkan. Di tengah keramaian jamaah yang bubar dari pengajian seumbruk-umbruk itu. Aku dipaksa ayah ngeluarin mobil dari parkiran dengan pagar yang pas-pasan dan lalu lalang kendaraan yang crowded, huhuhu. Ayaaaaaaahkuuu tegaa benaar. Tapi paksaan ini akhirnya membuahkan hasil, aku bisa pulang dengan selamat. Subhanaallah, Alhamdulillah, Allahuakbar!! *Ndesit
Ada lagi yang paling menegangkan di antara kedua kejadian itu. Pergi ke Gresik. Sesampainya di jalan
terabasan tiba-tiba ayah berhenti. Tepatnya di jalanan terabasan daerah Krian. Di situ ada yang namanya

Kisah tentang Persahabatan

Kamis, Maret 14, 2013 2
Saya suka cerita yang versi ini :)
Ini cerita tentang seorang anak manusia yang mencari kebenaran. Jauh lebih dari itu, menurutku ini cerita tentang persahabatan seorang anak manusia dengan panggilan Pie dan seekor harimau bernama Richard Parker. Persahabatan yang terjadi di atas perahu penyelamatan sekoci. Kisah Pi yang bertahan hidup cukup lama di tengah lautan samudera pasifik bersama sahabatnya yang buas
 
"...Richard Parker membawa hubungan kami sampai akhir. Tetapi dia menerobos masuk ke dalam hutan begitu saja. Dan kemudian dia, sahabatku yang buas mengerikan, yang membuat aku bertahan hidup, menghilang selamanya dari kehidupanku.
Setelah beberapa jam, orang-orang menemukanku, mereka membawaku pergi untuk menyelamatkanku. Dan aku menangis seperti anak kecil. Bukan karena aku mati-matian berusaha untuk bertahan, meskipun itu benar terjadi. Aku menangis karena Richard Parker meninggalkanku, hatiku hancur.
Ayahku benar, Richard Parker tak pernah melihatku sebagai temannya. Setelah semua yang telah kita lalui. Bahkan, waktu sampai di pinggir pantai itu, ia tak menoleh ke belakang. Tapi aku percaya, ada sesuatu yang lebih di dalam matanya, lebih dari refleksiku sendiri, menatap ke arahku. Aku tahu itu, aku merasakannya. Bahkan ketika aku tidak bisa membuktikannya.
Aku sudah begitu banyak kehilangan, keluargaku, kebun binatang, India, Anandi... Aku kira India dan seluruh kehidupan harus dilepaskan, tapi begitu menyakitkan jika tak sempat mengucapkan kata perpisahan.
Aku tak sempat berterima kasih kepada ayahku, untuk semua yang aku tahu dari dia. Untuk mengatakan bahwa tanpa pelajaran darinya aku tak akan pernah selamat.
Aku tahu, Richard Parker adalah harimau, tapi aku berharap aku bisa mengatakan: Sudah berakhir, kita selamat, terima kasih telah menyelamatkan hidupku. Aku menyayangimu, Richard Parker. Kau akan selalu bersamaku. Tapi aku tak bisa bersamamu."
 
Cerita yang luar biasa dalam sejarah kelautan. Keberanian dan ketekunan. Sangat sedikit yang percaya bahwa ia dapat bertahan hidup begitu lama di laut. Tak ada teman, hanya harimau benggala dewasa. .

Satu hikmah film ini untukku: I'll survive, wherever.

#LIFE of PIE, recommended.

Jejaring Sosial, Mulutmu Harimaumu

Minggu, Februari 17, 2013 0
Bertutur kata yang baik ketika pikiran, jiwa, dan raga sedang sehat juga baik, adalah biasa. Namun, bertutur kata yang baik saat emosi tidak stabil, jiwa porak poranda, dan akal sehat tak lagi di tempat, adalah luar biasa.
Luar biasanya lagi adalah ketika kita mau belajar menata hati agar tetap "bertutur kata yang baik saat marah", tak perlu sampai sumpah serapah atau mengeluarkan kata-kata yang bisa jadi lebih menyakitkan daripada penyebab marah itu sendiri, cukup didoakan saja, karena sebaik-baik balasan adalah milik Allah :)


Representatif lidah tak hanya dengan lisan, namun juga dengan tulisan. Facebook itu ibarat rumah kita, ketika kita membuka inbox, timeline, status, atau postingan-postingan orang lain kemudian kita berkomentar, dsb. adalah ibarat kita sedang bertamu. Sehingga gunakan adab bertamu sebagaimana mestinya, termasuk menutupi aib saudara sebagaimana Allah menutupinya dengan aman. Catatan malaikat kanan kiri tentunya juga akan berlaku, mereka juga bekerja di sini. Berhati-hatilah.


"esensi MENJAGA LISAN itu seperti apa sih?" tanyaku pada seorang sahabat

Brownies Kukus Sakina

Selasa, Januari 29, 2013 1
Okey, sebelum membuat kita siapkan alat dan bahan terlebih dahulu yuk.

Alat:
1. Mixer
2. Timbangan/Neraca
3. Sendok/Garpu,dsb.

4. Baskom
5. Kukusan
6. Kompor
7. Loyang
8. Panci Besar
9. Panci kecil

Bahan:
1. Tepung terigu 1/4kg
2. Telur 4 butir
3. Gula 200gram atau lebih boleh suka-suka tergantung kadar kemanisan yang diinginkan
4. Mentega 50 gram
5. Coklat Batang 250 gram
6. Ovalet 1 sendok teh
7. Kismis

Semua alat dan ukuran bahan bisa dikreasikan sendiri, segala perhitungan di atas adalah standartnya. Namun kata ibu jaman dahulu, semakin suatu resep tidak ada takaran yang pas, semakin berpeluang untuk menjadi enak. Dengan kata lain, takarannya sesuai dengan hati, rasakanlah dengan hati sampai terasa pas, masing-masing dari kita terutama kaum ibu mempunyai insting yang oke untuk ini, manfaatkanlah, hehe.
Tereng-tereng, dan caranya adalah sebagai berikut.

Sebelumnya, siapkan loyang dengan melumurinya mentega dan tepung terigu agar dalam proses pengkukusan nanti adonan tidak lengket setelah jadi. Siapkan kukusan, nyalakan api kecil, masukkan loyang yang telah siap ke dalam kukusan. Biarkan alat ini bekerja. Sisihkan kemudian kita membuat adonan :)

Pertama membuat lelehan coklat, lelehkan mentega dengan batang cokelat, caranya beri air di panci besar kira-kira setengahnya, jangan sampai penuh. Kemudian di atas panci besar yang berisi air tadi tempatkan panci kecil, di dalam panci kecil ini isi mentega dan cokelat  yang akan dilelehkan. (hanya berisi mentega dan cokelat, no air).

Kerudung Sifon dari Kampung Arab

Minggu, Januari 20, 2013 4
Hari ini, aku pergi ke kampung Arab bersama dua kawan rantauku di Malang. Tujuannya untuk membeli jilbab. Eitss, namun belinya tak asal beli, kami membeli untuk menjualnya kembali di kampung halaman. Istilah jawa-nya adalah kulakan, asyik. Sepertinya benar, "buah jatuh tak jauh dari akarnya, eh pohonnya", hehe. Jiwa wirausaha ayahku memang sudah lama merasuk dalam tubuh, namun akhir-akhir ini terasa begitu parah, sampai-sampai uang sudah hampir habis pun dibela-belain kulakan. Tau aja kalo mau pulang kampung, dihabis-habisin buat kulakan. Semoga cukup sampai tujuan yak, heem.
Dalam masa uji coba, aku membeli empat potong jilbab berbahan kain sifon. Konon katanya bahan ini sedang menjadi favorit di kalangan remaja. Bahan ini semacam paris, namun lebih tebal dan halus. Aku membeli dengan lebar yang cukup untuk sebuah jilbab segiempat agar tidak terawang. Aku juga memilih warna yang tidak terlalu muda, karena jika terlalu muda akan terlihat sedikit terawang. Kita harus tetap syar'i, meski kita suka mengikuti tren. Ingat, harus tetap menjadi pematuh syariah yak 8).
Cukup bagus dan menarik kulakan jilbab di sini. Aku membeli warna peach, ungu tua, orange segar, dan merah hati. Doakan semoga orang-orang di kampungku banyak yang suka ya :)
Jika yang baca juga suka, boleh pesan deh di sini, kasih komentar di tulisan yang ini. Limited Edition lho, hehehe.
bahan: kain sifon polos halus
lebar: 1.15 cm
harga: 35.000 rupiah

Kursus Menjahit

Sabtu, Januari 19, 2013 20
Mengingat kedua mbah putri saya yang di Gresik maupun yang di Ponorogo (almh.) adalah seorang penjahit, maka merasa malu jika cucu putri-nya tidak bisa menjahit, hehe. Sebenarnya keinginan ini sudah sejak lama, namun baru muncul serta bisa merealisasikannya akhir-akhir ini.
Semua perempuan pasti memiliki naluri keibuan. Satu impian yang ingin saya lakukan ketika menjadi ibu adalah membuatkan baju untuk anak-anak. Tak lama Allah memperlancar keinginan saya untuk belajar. Insya Allah dalam waktu dekat saya akan belajar menjahit bersama bunda. Beliau adalah tukang penjahit baju saya selama di Malang. Mengapa dipanggil bunda? Ceritanya karena anak semata wayang beliau memanggil Bunda. Nama sebenarnya Ibu Arafah.
Hari itu saya melangkahkan kaki menuju rumah bunda untuk menjahitkan baju gamis. Saya dan seorang kawan yang ingin belajar menjahit berkeinginan menyampaikan maksud ini kepada beliau. Ceritanya lagi nih, sekali tempuh dua maksud tersampaikan. Maksud pertama menjahitkan kain untuk baju gamis, dan maksud kedua adalah belajar menjahit bersama bunda. Sebelumnya sempat berdebar-debar, kira-kira bunda mau gak ya ngajarin kita. Dalam feeling saya, melihat bunda yang ramah seperti itu, saya menyimpulkan bahwa bunda bersedia. Sebelum diukur, kami sudah menyinggung soal belajar menjahit. Amazing, respon bunda begitu cepat. Bunda juga bilang bahwa pernah ada yang seperti kami juga belajar di tempat bunda, yaitu mahasiswi semester akhir yang sudah mau pulang ke kampung halamannya masing-masing dan ingin membawa bekal keahlian menjahit. Tak tanggung-tanggung, bunda juga memotivasi kita bahwa karena semua ada ilmunya maka semua itu bisa dipelajari. So sweet, semoga kami bisa bertahan hingga final.
Setelah saya diukur bunda untuk keperluan pembuatan gamis (maksud pertama tadi), bunda langsung menuliskan peralatan dan bahan-bahan yang harus kami miliki untuk belajar menjahit. Bunda mencatatkannya di kertas, dan menyuruh kami membeli semua itu di toko khusus penjualan alat-alat menjahit di daerah Dinoyo. Alat dan bahan yang dituliskan di secarik kertas itu adalah:
1. Alat tulis
2. Buku besar (folio)
3. Pensil merah biru atau spidol
4. Skala (penggaris kertas)
5. Jarum pentul
6. Gunting
7. Kertas blat
8. Rader


Semoga kami lulus hingga tingkat mahir.
Alhamdulillah, mesin jahit di rumah akan segera dinaikkan ke atas lagi dan bisa bermanfaat. Doakan kami ya teman-teman :)

[Repost] Sebuah Nasehat untuk Nasehat

Jumat, Januari 11, 2013 0

Wudhu seperti itu tuh salah!” seseorang berkopiah dengan baju koko putih bersih tiba-tiba bercelutuk ketika melihat seorang pria sedang berwudhu.
Seketika juga sang pria tersentak dan terhenti dari wudhunya. Kepada siapa lagi pria berbaju koko ini berbicara kalau tidak kepadanya karena dia lah satu-satunya yang berwudhu saat itu. Sedangkan yang lainnya hanyalah bocah-bocah yang ramai bermain dalam keceriaan. Saat itu juga tiba-tiba keramaian bocah terhenti. Seluruh mata kini reflek menatap pria dengan parfum yang tercium harum tersebut dan kemudian berbalik menatap pria yang sedang berwudhu.

“Terus bagaimana yang benar?” sang pria pun akhirnya balik bertanya dengan wajah sedikit merah padam. Suaranya serak seperti menahan amarah. Rupanya sang pria sedikit jengkel juga walaupun dia menyadari bahwa dirinya salah. Tepatnya sang pria kesal karena malu. Di sana banyak orang dan banyak anak kecil juga salah satu putranya yang kini menyaksikan ayahnya yang tak becus dalam berwudhu.

Dalam hati kini pria membatin “Mentang-mentang banyak ilmunya!” alih-alih merasa berterima kasih karena tengah hendak dibetulkan wudhunya, sang pria malah beralih meredam sakit hati dalam hati karena telah ditegur terang-terangan di depan orang banyak. Sang pria hanyalah manusia biasa yang pastinya punya perasaan.

Sedikit merenung tadi malam setelah membaca sebuah buku pada bab Nasihat dan akhirnya membuat saya tergerak menuliskan ini. Bukan karena apa-apa namun lebih karena saya amat tertohok dengan setiap baris kata-kata di dalamnya. Karena saya baru sadar bahwa ternyata menasehati itu amat tinggi pahalanya di sisi Allah. Dan karena saya juga miskin ilmu sehingga tak dapat menasehati, maka tidak apalah, semoga sepenggal tulisan yang merupakan rangkuman dari beberapa tulisan ini merupakan sebuah nasihat yang baik.

Longing, Secret, and Awesome

Longing, Secret, and Awesome

Selasa, Januari 08, 2013 0

Bismillah, catatan ini kutulis setelah iseng-iseng melihat foto-foto, dan tak sengaja menemukan foto-foto ketika liburan bersama teman-teman FLP di Batu Secret Zoo (BSZ). Tiba-tiba gemuruh batinku mengingat sesuatu. Selain teringat sebuah janji menulis kepada Pak Dian tentang perjalanan liburan ke BSZ, foto-foto ini mengingatkanku pada suatu rasa yang campur aduk, yang jelas rasa ini bernama KANGEN. Sungguh, dari ujung rambut hingga ujung ibu jari kakiku, aku merindukan teman-teman FLP. Semoga tanggal pertemuan kita yang telah dijanjikan terasa tidak lama ya.

Masih ingatkah ketika itu kita bersiap menuju Batu Secret Zoo dengan naik angkot? Kita berkumpul di Terminal Landungsari. Hal yang paling kuingat adalah aku mencicipi kepada kalian brownies buatanku. Satu rahasia, brownies itu kubuat dengan meminjam dapur mbak Wulan, H-1 sebelum keberangkatan kita menuju Batu. Pokoknya hari itu serba merepotkan mbak Wulan. Tapi, semoga rasanya tidak mengecewakan, yang jelas aku membuatnya dengan sepenuh CINTA :)
Perjalanan ke Batu yang begitu menyenangkan.

Sesampainya di BSZ, kita sarapan dengan ayam dan minum susu segar dari DAU. Pokoknya semua kelengkapan gizi kita sebelum masuk BSZ serba sudah siap, dan orang-orang di balik layar atas semua itu, tereng-tereng.... Inilah PAHLAWAN PERUT KITA, Mbak Agie dan Ibunya + Pak Day. Arigato Gozaimash :)
Kebayaaang betapaa serunya piknik kita waktu itu.

Tak lama, sebelum kita masuk BSZ, ternyata eh ternyata kita harus mengantri (padahal tiket sudah di tangan). Hem karena pengunjung yang banyak sekali, dua kali, tiga kali, maka kita harus mengantri sodara-sodara. Sudah mirip antrian jatah sembako atau subsidi BBM gak sih? hoho. Okeh, eitz ada yang ketinggalan sebelum itu, ibu-ibu pada hunting dulu nih di pasar depan BSZ, hunting TOPI, aha kan lebih cakepan pake topi, ups tapi pada seragam semua nih modelnya, kayak anak panti dari yayasan manaa gitu :P Tapii, emang kita pikirin?? kagaaak, kita kan se-hati beribu cinta ya buu :) *lirik Maulida dan mbak Lin

Yak, saatnya yang ditunggu-tunggu, kita masuk  BSZ teman-teman, tak lupa NARSIS dulu, action ^_~ *gubrak