Tampilkan postingan dengan label Hijab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hijab. Tampilkan semua postingan

Tentang Pola

Rabu, April 24, 2013 2
Asyiiik sudah bisa bikin pola baju :)
Celetukku pada teman-teman Forum Lingkar Pena di saat ishoma sebuah acara

Kemudian dengan tegas namun mematahkan "sedikit" keinginan keras, ada rekan pengurus FLP yang paling senior dan sudah menikah berkata:
"lho, itu sudah ada software-nya tinggal masukkin ukuran-ukurannya, hehehe, bisa langsung jadi pola baju, tinggal diprint dan dijiplak di kain yang mau dijahit, biasanya dipakai oleh designer modern."

Waaaah, mematahkan sedikit kemauan kerasku untuk membuat pola :(
Tapi bolehlah, karena beliau saya jadi tahu kalo pola baju ada softwarenya :D
Kalo jahitnya tinggal nggeredhek di mesin itu mudah, tapi bikin polanya yang sedikit tidak mudah, perlu pakai penggaris dan rumus matematika. Nah kalo bikin pola sudah dibantu software, jadi lebih baik dan lebih mudah sepertinya, yang terpenting adalah lebih efisien :)

Bergegas aku mencari dan download software pola yang dimaksud. Setidaknya untuk belajar design baju. Tidak disarankan untuk pemula, menurutku pemula harus menggunakan manual terlebih dahulu, satu dua pola, agar tahu sedikit tentang kronologi kejadiannya, hehe. Rekomendasi bagi designer modern dan terlalu banyak orderan, agar tidak terlalu ribet bikin pola secara manual. Bagi yang sudah sangat mahir dan bosan membuat pola secara manual, boleh juga menggunakan software dalam membuat pola. Software pola gratis bisa didownload dan dicari di google, ada namanya Pola 3.0a r7 atau bisa juga  Marvelous Clo 3d dan masih banyak lagi. Semoga dengan ini bisa lebih mudah ya, hihi *ndesitnya aku. selamat mencoba dan berkarya :)
manual
software

Kerudung Jilbab Pelangiku

Jumat, April 05, 2013 0
Sebelum pulkam, aktifitas kulakan jilbab ataupun baju-baju pesanan sahabat-sahabat perempuan, para murobbiah, bulik-bulik, ibu guru, teman-teman ibuku, ibu-ibu tetangga rumah, dan semua perempuan terdekatku, agaknya sudah menjadi kebiasaan dua tahun terakhir di rantau. Kagak tau kenapa mereka lebih senang pesan jilbab dan baju di tempat yang jauh-jauh daripada mencari sendiri di tempat terdekat. Bela-belain transfer uang juga subhana Allah, luar biasa. Sebenarnya banyak alasan dari mereka. Ada yang alasannya karena bahan kain kerudungnya beda dan seneng modelnya karena ada yang lebar-lebar pake banget. Ada yang senang penampilan gaul dan alasannya karena baju model kodok jarang ada di Ponorogo. Tak sedikit dari mereka bilang karena tertarik apa yang aku kenakan. Intinya, aku senang jika ide dan gayaku bisa menginspirasi orang lain. Ya, karena mereka lah aku jadi senang bisnis kecil-kecilan dalam rangka membantu mendistribusikan barang dari Malang ke Ponorogo. Sistemnya sederhana sekali, mereka butuh dan aku bersedia, he he he. Aku senang jika melihat mereka senang dengan barang-barang yang kubawa. Semua ini sebagai selingan saja untuk menyalurkan hobi. Bukan pekerjaan utamaku, hanya dalam rangka senang membantu orang lain, tidak lebih. Berbagi kesenangan dengan orang lain. Aku senang melihat mereka lebih senang dariku.
Sore itu ada janji sama mbak kost untuk beli jilbab pelangi di Tanah Abang Malang, lumayan jauh dari kostan kami. Ternyata jilbab pelangi segiempat stok habis dan akan datang dalam waktu yang masih lama, kata penjaga Toko Tanah Abang. Pupuslah sudah untuk memiliki jilbab pelangi yang selama ini kuidam-idamkan. Sebenarnya sudah punya sejenis jilbab pelangi dari Bandung yang kudapatkan dari Malang Islamic Book Fair bulan lalu. Namun motifnya lebih kearah sembur menurutku. Tiba-tiba mbak kost mengingat satu tempat lagi yang menyediakan jilbab pelangi di Malang. Tempatnya tak jauh dari kostan kami. Kisah pencarian jilbab pelangi untukku ini, seperti kisah-kisah pencarian jodoh di film-film gitu, ceile. Saya dan mbak kost mencari-carinya di tempat yang jauh tidak ketemu, malah nemuin yang di deket-deket, wkwkwk. Ini namanya, gajah di pelupuk mata belum tampak malah sibuk mencari semut jauh-jauh.

Kerudung Sifon dari Kampung Arab

Minggu, Januari 20, 2013 4
Hari ini, aku pergi ke kampung Arab bersama dua kawan rantauku di Malang. Tujuannya untuk membeli jilbab. Eitss, namun belinya tak asal beli, kami membeli untuk menjualnya kembali di kampung halaman. Istilah jawa-nya adalah kulakan, asyik. Sepertinya benar, "buah jatuh tak jauh dari akarnya, eh pohonnya", hehe. Jiwa wirausaha ayahku memang sudah lama merasuk dalam tubuh, namun akhir-akhir ini terasa begitu parah, sampai-sampai uang sudah hampir habis pun dibela-belain kulakan. Tau aja kalo mau pulang kampung, dihabis-habisin buat kulakan. Semoga cukup sampai tujuan yak, heem.
Dalam masa uji coba, aku membeli empat potong jilbab berbahan kain sifon. Konon katanya bahan ini sedang menjadi favorit di kalangan remaja. Bahan ini semacam paris, namun lebih tebal dan halus. Aku membeli dengan lebar yang cukup untuk sebuah jilbab segiempat agar tidak terawang. Aku juga memilih warna yang tidak terlalu muda, karena jika terlalu muda akan terlihat sedikit terawang. Kita harus tetap syar'i, meski kita suka mengikuti tren. Ingat, harus tetap menjadi pematuh syariah yak 8).
Cukup bagus dan menarik kulakan jilbab di sini. Aku membeli warna peach, ungu tua, orange segar, dan merah hati. Doakan semoga orang-orang di kampungku banyak yang suka ya :)
Jika yang baca juga suka, boleh pesan deh di sini, kasih komentar di tulisan yang ini. Limited Edition lho, hehehe.
bahan: kain sifon polos halus
lebar: 1.15 cm
harga: 35.000 rupiah

Kursus Menjahit

Sabtu, Januari 19, 2013 20
Mengingat kedua mbah putri saya yang di Gresik maupun yang di Ponorogo (almh.) adalah seorang penjahit, maka merasa malu jika cucu putri-nya tidak bisa menjahit, hehe. Sebenarnya keinginan ini sudah sejak lama, namun baru muncul serta bisa merealisasikannya akhir-akhir ini.
Semua perempuan pasti memiliki naluri keibuan. Satu impian yang ingin saya lakukan ketika menjadi ibu adalah membuatkan baju untuk anak-anak. Tak lama Allah memperlancar keinginan saya untuk belajar. Insya Allah dalam waktu dekat saya akan belajar menjahit bersama bunda. Beliau adalah tukang penjahit baju saya selama di Malang. Mengapa dipanggil bunda? Ceritanya karena anak semata wayang beliau memanggil Bunda. Nama sebenarnya Ibu Arafah.
Hari itu saya melangkahkan kaki menuju rumah bunda untuk menjahitkan baju gamis. Saya dan seorang kawan yang ingin belajar menjahit berkeinginan menyampaikan maksud ini kepada beliau. Ceritanya lagi nih, sekali tempuh dua maksud tersampaikan. Maksud pertama menjahitkan kain untuk baju gamis, dan maksud kedua adalah belajar menjahit bersama bunda. Sebelumnya sempat berdebar-debar, kira-kira bunda mau gak ya ngajarin kita. Dalam feeling saya, melihat bunda yang ramah seperti itu, saya menyimpulkan bahwa bunda bersedia. Sebelum diukur, kami sudah menyinggung soal belajar menjahit. Amazing, respon bunda begitu cepat. Bunda juga bilang bahwa pernah ada yang seperti kami juga belajar di tempat bunda, yaitu mahasiswi semester akhir yang sudah mau pulang ke kampung halamannya masing-masing dan ingin membawa bekal keahlian menjahit. Tak tanggung-tanggung, bunda juga memotivasi kita bahwa karena semua ada ilmunya maka semua itu bisa dipelajari. So sweet, semoga kami bisa bertahan hingga final.
Setelah saya diukur bunda untuk keperluan pembuatan gamis (maksud pertama tadi), bunda langsung menuliskan peralatan dan bahan-bahan yang harus kami miliki untuk belajar menjahit. Bunda mencatatkannya di kertas, dan menyuruh kami membeli semua itu di toko khusus penjualan alat-alat menjahit di daerah Dinoyo. Alat dan bahan yang dituliskan di secarik kertas itu adalah:
1. Alat tulis
2. Buku besar (folio)
3. Pensil merah biru atau spidol
4. Skala (penggaris kertas)
5. Jarum pentul
6. Gunting
7. Kertas blat
8. Rader


Semoga kami lulus hingga tingkat mahir.
Alhamdulillah, mesin jahit di rumah akan segera dinaikkan ke atas lagi dan bisa bermanfaat. Doakan kami ya teman-teman :)