Melatih Batita Mengatakan Keinginannya

Melatih Batita Mengatakan Keinginannya

Rabu, Oktober 10, 2018 0

Baim, belum begitu lancar bicara. Masih banyak menggunakan bahasa isyarat. Mungkin karena beberapa faktor, salah satunya banjir informasi. Saya tinggal dengan mertua. Mertua saya mengajarkan bahasa Jawa. Sedangkan saya mengajarkan bahasa Indonesia. Karena guru itu harusnya satu saja. Solusinya, saya terus berusaha untuk sounding: "Baim, harus manut kata-kata ummi saja. Selain ummi, No. Karena ummi tahu apa yang terbaik buat Baim."

Hari ini saya melatihnya untuk tidak teriak bahkan menangis jika meminta sesuatu. Mulai dari meminta ASI yang selalu disertai rengekan. Dia terbiasa tiba-tiba langsung duduk dipangkuan saya, posisi siap mengASI. Tak lama kemudian menangis. Bahkan kalau ummi terlalu lama bersiap untuk mengASI, dia selalu teriak-teriak.
Selama ini selalu saya loloskan memberi ASI, setelah dia menangis dan teriak-teriak. Ternyata ini tidak baik untuk kemandiriannya.

Kali ini saya mencoba untuk tidak meloloskan ketika dia pakai bahasa tubuh, dsb. Saya diam saja. Dia mulai merengek. Saya tanya:
"Eh, Apa ini maksudnya?"
Baim:
"Mik... Bubuk..."
Ummi:
"Owh.. Oke Siap! Pejamkan mata... "
Saya terdiam agak lama. Dia seperti menunggu sesuatu.
Ummi:
"Yuk... Merem"
Baim:
"Aci... Aci..."
Rasanya pingin menahan tawa. Tapi saya berhasil memancingnya untuk berkata apa yang diinginkannya. Alhamdulillah 😂

#Day6
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang

Kendala:
Belum fasih berbicara
Pencapaian:
Mulai belajar berkata apa yang diinginkan
Evaluasi:
Merengek dan berteriak ketika menginginkan sesuatu
Tips:
Sabar, menstimulasi agar mau berbicara atau mengatakan apa yang diinginkan

Perangi Ini Jika Ingin Anak Mau Makan Tanpa Disuapi

Perangi Ini Jika Ingin Anak Mau Makan Tanpa Disuapi

Selasa, Oktober 09, 2018 0

Tidak ada yang spesial hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya saya sedang melatih kemandirian Baim dalam hal makan. Hanya saja, hari ini saya dikejutkan dengan kebiasaan Baim yang sudah tidak mau disuapin. Benar ummi yang menyiapkan makan. Sesekali membenarkan sendok, bahkan membentuk nasi agar mudah diambil tangan jika lauk kering. Tapi mulai hari ini, dia menolak suapan dari ummi. Dia ingin setiap makanan yang masuk dari tangannya sendiri. Meskipun itu sudah di tangan ummi. (Jadi ummi kadang transfer ke tangannya).

Kadang ummi merasa belum tega. Bagaimana kalau lamban makan nanti jadi kurus? Jika kotor, makanan berserakan ke mana-mana ummi nggak masalah. Makanan kececeran dibaju? Nggak papa, kotor belum tentu najis dan makanan nggak najis. Baju bisa dicuci. Air tumpah di lantai? Its Okay. Itu hanyalah cairan, bisa dipel. Tapi melatih kemandirian tidak bisa ditunda. Hanya saja, ada rasa belum tega karena takut makanan yang masuk kurang. Antara belum telaten dan tidak sabar.

Kendala:
Makan sendiri terlalu lama
Pencapaian:
Mau makan sendiri
Evaluasi:
Takut kurang gizi
Tips:
Menambah frekuensi makan jika dirasa perlu untuk mengimbangi yang masuk sedikit. Lama-lama akan menjadi banyak jika frekuensi menjadi lebih sering.

#Day5
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang

Belajar Minum Pakai Gelas

Belajar Minum Pakai Gelas

Senin, Oktober 08, 2018 0

Baim. Batita dua tahun yang suka sekali minum. Apapun itu. Minum air putih, minum susu, minum jus buah, minum teh (tapi yang ini nggak boleh banyak-banyak).
Hari ini pergi arisan keluarga. Setiap hari minggu, seminggu sekali. Ada dua menu jamuan dari tuan rumah. Soto daging dan es segar. Saya kira Baim tidak bakal melahap makanan. Karena beberapa hari ini sedang GTM. Ternyata, dia sendiri yang ingin memegang sendoknya lalu melahap soto yang ada di depannya. Tetap dibenarkan ummi agar tidak tercecer. Ummi pegang sendok makan dari piring ummi. Dia pegang sendok makannya sendiri. Ummi pilihkan bagian yang mudah dimakan. Setelah itu ummi biarkan dia mengeksplorasi es segar. Makanan sepiring habis, santai lah ummi kalo dia mau minum es juga. Dia sendok sendiri, minum sendiri airnya.
Panas menyengat sepulang arisan keluarga, Nini bikin jus tomat dan wortel. Hem... Segarnya. Dia bisa minum pake gelasnya sendiri tanpa sedotan.
Kendala:
Baim kadang tersedak jika minum pakai gelas langsung tanpa sedotan.
Pencapaian:
Bisa minum pakai gelas tanpa sedotan tanpa tersedak.
Evaluasi:
Harus hati-hati karena jika tidak akan tumpah basah semua ke baju.
Tips:
Ambil sedikit saja cairan yang akan dituangkan di gelas agar dia bisa mengontrol sendiri laju air yang masuk ke mulutnya. Jika sudah habis baru dituangkan kembali sedikit. Begitu seterusnya sampai sekiranya cukup. Selesai minum.

#Day4
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang

Makanan Berkuah

Makanan Berkuah

Minggu, Oktober 07, 2018 0

Pagi-pagi Baim sudah makan agar-agar roti yang dijual di obrok sayur. Saya ambilkan ikan kering dan nasi sama sekali tidak tertarik untuk dimakan. Alhasil rewel sepagian utuh. Saya tawarkan dia untuk minum susu. Mau dibuatkan susu? Iya mau, jawabnya.

Selama proses membuatkan susu terjadilah drama. Akhirnya bisa selesai. Susu setengah gelas habis tak tersisa diminum sendiri. Berarti jelas karena lapar. Sempat bermain ke sana ke mari menghabiskan energi dari susu yang barusan diminum. Karena belum mandi, saya lepas bajunya untuk mandi. Mandi begini juga pake drama lima episode. Episode pertama tidak mau dilepas baju. Semua berusaha dipake kembali. Episode kedua setelah berhasil membujuk mandi, tidak mau dibilas padahal keramas. Episode ketiga setelah mau dibilas, eh dia keterusan tidak mau mentas. Dapat alat baru untuk mainan air. Episode keempat setelah mau mentas, nggak mau dipakaikan pampers. Berlarian ke sana ke mari. Episode kelima, setelah mau dipakaikan pampers. Gak mau dipakai kan baju, maunya minum ASI. Baiklah mungkin dia masih mengantuk.

Kendala:
GTM lagi ga mau makan. Lauk dengan sayur berkuah diambil lauknya saja. Nasi ga mau dimakan.
Pencapaian:
Lauk habis nasinya utuh. Setelah disuapin malah nambah nasi 1 centong.
Evaluasi:
Ga telaten, ga sabar karena ga mau menyendok nasi. Akhirnya nasi disuapkan ummi malah nambah 1 centong.
Tips:
Ummi harus sabar dan konsisten.

#Day3
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Latihan Makan Tidak Pakai Sendok

Latihan Makan Tidak Pakai Sendok

Jumat, Oktober 05, 2018 0

Ikan goreng adalah makanan kesukaan Baim. Selama ini jika makan ikan, ummi suapkan nasi dan dia ambil ikan yang sudah disuwar-suwir. Tekstur kering, jadi makan tidak pakai sendok. Dia sudah cukup mahir jika pakai sendok. Kali ini dia harus makan menggunakan tangan. Kalau dalam bahasa Jawa namanya muluk. Baim sedang menjalani kurikulum latihan makan sendiri dari ummi. Bagaimana kah caranya agar dia bisa makan makanan lauk kering ini?

Otak ummi berputar. Baiklah saya mempunyai ide cemerlang. Saya kepal-kepal nasi nya kecil sebanyak 10 kepal. Seperti terlihat di foto ini. Ikan saya buang bagian duri. Saya sandingkan di dekat kepalan nasi. Bagaimana hasilnya? Dia hanya mengambil suwiran ikan yang sudah hilang durinya. Nasi tidak tersentuh. Baiklah... Harus ada ide lagi untuk membuat dia mengambil nasinya. Saya kepalkan ikan dengan nasi jadi satu. Saya berikan kembali.
"Ayo, Nak. Dimakan."
Dia kembali memakan, dilihatnya tidak ada ikan. Dia protes.
"Mik, Itan..."
"Iya, ikannya di dalem nasi. Makan sama nasinya ya."
"Emoh... "
Saya diam. Dia kembali menonton TV. Tak lama dia mengambil kepalan nasi ikan itu. Alhamdulillah, sabar sabar... Sebentar lagi. Dari 10 kepal sisa 5 kepal, ikan habis. Tidak mengapa, latihan butuh kesabaran. Latihan adalah proses itu sendiri. Semoga segera konsisten untuk tidak membantu Aim makan.

#Day2
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Mandiri Makan Sendiri

Mandiri Makan Sendiri

Jumat, Oktober 05, 2018 0

Tepat dua bulan lalu saya menulis tentang "Kelepasan Proses Makan Baim". Saya bercerita bagaimana Baim hanya menelan makanan-makanan nya tanpa mengunyah.

Di foto terlihat Baim memakan apapun sendiri. Proses inilah yang melatih dia mandiri (makan sendiri). Alhasil, lebaran kemarin banyak yang heran. "Anak kecil, bisa makan sendiri?"

Bagaimana perasaan kalian melihat ini? Positif atau negatif? Sebenarnya tergantung persepsi masing-masing. "Ih, tercecer semua makanan sampai mana manaa". Atau, "Eeeh, itu bahaya tusuk sate nya". Atau malah, "Ngeri bangeeet, nanti kalau tersedak bagaimana? Cuek banget, emaknya kemana". Itu yang negatif.

Kalau saya menyikapinya positif saja. Tercecer, bisa dibersihkan. Bahaya tusuk sate bisa ditumpulkan (patahkan bagian ujungnya) dan tetap diawasi ketika makan sate. Tersedak, itu mungkin karena tidak pernah dilatih makan makanan kasar. Cuek? Ini proses mendidik anak pertama, laki-laki pula. Semua laki-laki adalah pemimpin (minimal pemimpin keluarganya). Calon pemimpin harus bisa mandiri. Semua kalau tidak dilatih/diasah, tidak akan bisa datang sendiri keahliannya. PR saya pun sekarang adalah melatihnya mengunyah dengan cara yg benar. Saya sedih, melihat dia sering tersedak karena tergesa menelan makanan sebelum benar-benar lumat. Mungkin, dia masih sering makan yang lumat-lumat ketika disuapin (jujur, sampai sekarang saya kadang masih bejek-bejek lauk Baim pakai sendok kalau lagi nggak sabar).

Nggak sabar ngeliatnya lama mengunyah, kapan selesai makan nya? Keburu dingin. Bejek-bejek aja semuanya yang kasar-kasar. Atau yang paling parah dari itu "Gendong aja lah, ga sabar banget lihat makan nya lama, belum lagi kalau nggak mau". Hei, sejak kapan Rasulullah ngajarin makan sambil jalan-jalan 😭.

Mendidik itu ternyata seni kesabaran. Lha, kalau kita nggak sabar melihat rumah kotor, nggak sabar nungguin anak makan. Kapan mereka bisa makan sendiri dengan aman? Rasanya setelah ini kepingin minta maaf sama Aim dan bilang, umik sabar menunggu Aim mengunyah dengan benar. Titip doa ya, supaya Baim pintar mengunyah.

(Ditulis setelah dia makan apel kukus sambil jalan-jalan kesana kemari dan tersedak, sampai mengeluarkan air mata, nafas sudah tersengal-sengal, untung dia berlari ke arah umiknya, kemudian saya membantunya agar bisa muntah.)

*kelepasan proses makan Aim, semoga nggak kelepasan toilet training.

Ps: Hari ini saya sabar menunggu Baim memakan buah pir dan bakso kesukaannya. Semoga dia segera bisa mengunyah dengan sempurna. Klik latihan Baim hari ini. Setelah itu, selama 4 hari ke depan Baim akan tetap latihan makan sendiri. Jika telah teruji konsistensinya, maka Baim akan berlatih berbicara ketika menginginkan sesuatu. Tidak teriak-teriak ataupun menangis.

#Day1
#GameLevel2
#MelatihKemandirian
#Tantangan10Hari
#KuliahBundaSayang
#InstitutIbuProfesional

Bubur Sumsum Sederhana untuk Suami

Senin, Juli 18, 2016 0

Suami: "Dik, sepertinya abi belum bisa makan nasi."
Me: "Tak buatin bubur ya mas?"
Suami: "Bubur apa?"
Me: "Bubur nasi."
Suami: "Mas nggak suka bubur nasi dik..."

Ceritanya, bersamaan dengan keharusan mencabut gigi, karena geraham kanan suami terus mengeluarkan darah. Suami juga sedang sakit panas (gejala flu). Tepatnya, tertular istrinya ini yang terlebih dahulu sakit batuk dan pilek.

Sepertinya mas sedang menginginkan bubur sumsum untuk sarapan. Saya menanyakan bahan dasar bubur sumsum kepada mama. Di rumah sudah ada gula aren/gula merah. Saya pergi ke rumah Bu Wito (tetangga dekat rumah, pemilik toko mracang) untuk membeli santan kelapa dan tepung beras. Ketika berbelanja beberapa bahan di sana, saya menanyakan proses pembuatannya kepada Bu Wito. Di rumah Bu Wito, saya juga meminta dua lembar daun pandan untuk aroma. Sebagai referensi lain, saya membuka beberapa situs di web untuk memastikan bahan serta langkah yang benar.

Hasil kolaborasi resep dari beberapa sumber tersebut adalah sebagai berikut.

Bahan bubur:
1. 100 gr tepung beras
2. 1 ltr air, gunakan sebagiannya untuk membuat santan kelapa, (susu putih cair bisa menjadi alternatif bagi yang tidak suka santan, rasanya pun bisa lebih enak dari santan).
3. Garam secukupnya
4. 1 lembar Daun Pandan ditali simpul
Bahan saus:
1. 250 gr Gula merah/gula aren
2. 3 sdm Gula putih/gula pasir
3. 500 ml Air (jika suka saus yang kental, bisa ditambahkan sedikit larutan tepung maizena/tepung kanji)
4. 1 lembar Daun pandan ditali simpul

Langkah pembuatan:
1. Seperti membuat agar-agar, supaya tidak menggumpal, larutkan 100 gr tepung beras dengan 750 ml air dingin, aduk rata sebelum dipanaskan di atas api.
2. Gunakan 250 ml air untuk membuat santan atau mencairkan susu putih, lalu campurkan dengan hasil di langkah pertama, masukkan satu simpul daun pandan yang sudah dibersihkan, aduk rata.
3. Masak adonan yang telah disiapkan di atas api kecil, tambahkan garam secukupnya hingga terasa gurih. Aduk-aduk sampai mengental dan menjadi bubur.
4. Siapkan saus gula dengan melarutkan 500 ml air dan 250 gr gula merah/gula aren. Tambahkan 3 sdm gula pasir dan satu simpul daun pandan. Aduk rata hingga larut. Jika suka saus yang kental, tambahkan sedikit larutan tepung maizena/tepung kanji. Aduk kembali hingga menjadi kental.

Bubur sumsum siap disajikan dengan mencampurkan saus gula secukupnya.

*suami suka, habis satu mangkuk, adik-adik juga menyerbu habis hingga ke intipnya (baca: bagian bawah bubur yang mengendap), dan niat hati mau bontot buat makan siang suami, apa daya habis tak tersisa, hehe alhamdulillah.

Perempuan Multitasking

Sabtu, November 14, 2015 0
Dalam masalah pekerjaan yang lebih melibatkan pikiran (bukan perasaan), benarlah jika perempuan itu multitasking, dapat mengerjakan banyak pekerjaan dalam satu waktu atau sebut saja di saat yang bersamaan. Otak pada perempuan memiliki saraf penghubung (corpus collosum) yang cukup besar antara otak kanan dan kiri. Berbeda dengan pria yang memiliki saraf penghubung lebih kecil. Sehingga pria lebih membutuhkan fokus karena koneksi antara otak kanan dan kiri lebih lemah. Multitasking pada perempuan membawa pengaruh yang baik namun juga menimbulkan dampak negatif. Pengaruh baiknya antara lain:
1. Tidak hanya dapat menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya, namun juga dapat menjadi tempat curhat tetangga/ibu-ibu yang lain, serta menjadi pelayan-sahabat-partner hidup yang istimewa bagi suami.
2. Tidak hanya dapat menjadi manager rumah tangga yang baik, manager bisnis atau pekerjaan sekaligus dapat dikerjaan bersamaan.
3. Dapat menyelesaikan banyak pekerjaan rumah tangga (mencuci, menyapu, memasak dsb.) dalam satu waktu.
4. Memiliki waktu longgar ketika pekerjaan telah selesai.
5. Hemat waktu.
Sedangkan dampak buruknya adalah perempuan akan cenderung mudah stres dan memiliki kualitas pekerjaan yang tidak maksimal atau biasa saja. Hal ini juga mengakibatkan perempuan mudah lelah, daya ingat cepat menurun dan emosional (mudah marah).

Nugget Sayur Solusi untuk Anak yang Tak Suka Sayur

Sabtu, Oktober 17, 2015 0
Sekarang banyak cara untuk membiasakan anak suka makan sayur. Salah satunya dengan mengkreasikan masakan di dapur, seperti nugget sayur rasa pizza. Berikut resep sederhana dari dapur sakina.

Bahan Utama:
1. Dada ayam utuh, ambil dagingnya saja (fillet)
2. Wortel dipotong kecil-kecil untuk memudahkan dalam proses blend
3. Sawi putih, selain sebagai sumber vitamin pada nugget, sayur ini menghasilkan air yang dapat digunakan untuk campuran adonan agar lebih mudah dalam proses blend
4. Bumbu: bawang putih, bawang merah, bawang bombay, merica, garam, gula, keju/bubuk keju

Campurkan semua bahan dengan air secangkir kecil kopi, posisi sawi terletak pada blender bagian paling bawah.

Bahan Tambahan:
1. Daun bawang dan seledri yang sudah diiris halus agar menghasilkan aroma yang khas
2. Tepung tapioka 100 gr, tepung terigu 50 gr dan tepung roti 100 gr (perbandingan 2:1:2 tergantung kebutuhan, kondisional)

Campurkan bahan utama dengan bahan tambahan. Aduk rata, pastikan tidak terlalu lembek dan jika diangkat adonan tidak jatuh (tekstur kesat). Masukkan cetakan lalu kukus hingga matang. Potong-potong (bentuk sesuai selera), Lumuri dengan putih telur, tepung terigu dan tepung roti. Simpan di dalam freezer, goreng sesuai selera. Selamat mencoba.
Nugget Sayur by Dapur Sakina

Mau Kentang Gorengmu Seenak French Fries?

Selasa, September 08, 2015 0

Alhamdulillah... senang sekali memilikimu, adikku yang cantik jelita, hehehe. Beruntung juga ternyata punya adik yang belajar di jurusan ilmu dan teknologi pangan. Bagaimana tidak? Liburan semester ini, dia membuat kejutan yang bikin enak perut dan enak di kantong, hihihi. Semoga ilmu mu barokah amaliah ya dik. Meskipun aku tahu awalnya dirimu agak minder di universitas itu, tetapi bersyukurlah karena kamu sekolah gratis di situ. Jarang orang seberuntung dirimu. Bersyukur adalah satu-satunya cara untuk berterima kasih kepada Tuhan dan juga kepada almamater yang telah membiayai kuliahmu. Proud of you if you be thankful. Semoga setelah kamu lulus, kita bisa bikin cafe buku di Ponorogo ya dik (aamiiin). Mukadimah sudah ya (banyak banget, hehe).
It's okay kembali ke resep. Tentunya semua sudah pada tahu ya apa itu french fries. Yupi... kentang goreng ala ala perancis gitu. Nah, di sini aku mau membocorkan rahasianya. Sekarang kita bisa menggoreng kentang lokal yang beli di pasar tradisional, seenak kentang goreng perancis, dengan tidak perlu jauh-jauh pergi ke sana hehe. Pertama-tama yang harus dilakukan, tentunya harus pergi ke pasar untuk membeli kentang lokal =D Kedua, mampir juga ya untuk beli tepung maizena atau tepung kanji. Kalau belum punya garam dan es batu di rumah, jangan lupa juga mampir beli kedua bahan ini ya :)
Setelah semua bahan ada di tangan, saatnya kita beraksi. Caranya, mari kupas kentang dan memotongnya panjang-panjang. Setelah itu cuci sampai bersih. Kunci enak atau tidaknya kentang goreng nanti, ada di cara mencucinya. Jadi kita harus berusaha mencucinya sebersih mungkin hingga airnya bening (tidak butek). Setelah dicuci sangat bersih sekali pol banget, rendam kentang pada air garam selama 30 menit. Setelah 30 menit, masukkan es batu ke dalam air garam rendaman kentang tersebut. Diamkan selama 120 menit atau kurang lebih 2 jam. Setelah semua proses ini kita lakukan, tiriskan kentang dari air-air yang menyertainya. Tiriskan hingga benar-benar tidak ngecembeng itu air. Ini bermanfaat agar ketika proses pelumuran tepung tidak terlalu tebal. Jika terlalu tebal juga tidak enak (jadi ayam goreng tepung dong nanti, =D). Note: Beda maizena dengan kanji, jika kita menggunakan tepung maizena tidak perlu khawatir dalam proses meniriskan karena tepung ini menyerap air, sedangkan jika kita menggunakan kanji, kita harus totalitas ya dalam proses meniriskan kentangnya dari rendaman air garam, agar tidak terjadi ketebalan yang tidak diinginkan, yaitu yang berlebihan dan tidak merata. Okay, selesai tiris, lumuri kentang-kentang itu dengan tepung maizena atau kanji (jika ingin rasanya lebih kuat, campur tepung tersebut dengan garam, merica atau bumbu bubuk lainnya yang dari alam - empon empon kalo orang jawa bilang, note: lebih baik tidak perlu menggunakan penyedap rasa ataupun micin. yakinlah rasa alam itu sudah enak dari sononya). 

Taraaa... kentang goreng siap digoreng dengan api kecil. Masukinnya waktu minyak sudah panasam ya tapi.
Selamat mencoba :)

Survey Penduduk Antar Sensus (SUPAS) Kabupaten Ponorogo 2015

Sabtu, Juni 20, 2015 0
Pelaksanaan SUPAS serentak di seluruh wilayah di Indonesia pada bulan Mei 2015 kemarin. Badan Pusat Statistik telah empat kali melakukan survey ini yaitu pada tahun 1976, 1985, 1995 dan 2005. Di Kabupaten Ponorogo pelaksanaan survey berjalan lancar. Terdapat 130 Kelurahan/Desa yang menjadi bagian survey. Kelurahan/desa tersebut berasal dari beberapa kecamatan di Ponorogo dan tidak semua kelurahan dan desa menjadi bagian dari survey ini. Hanya 10 blok (kelurahan atau desa) dari masing-masing kecamatan.
SUPAS adalah survey penduduk di antara dua sensus. Survey ini dilaksanakan untuk menjembatani jarak data sensus yang terlalu panjang yaitu 10 tahun sekali. Sehingga, biasanya survey ini diadakan pada tahun-tahun yang berakhiran angka 5 di samping sensus yang diadakan pada tahun-tahun yang berakhiran nol (0). Tujuan dari SUPAS adalah:
1. Memperkirakan jumlah penduduk yang dirinci per kabupaten menurut jenis kelamin dan daerah (kecamatan/desa).
2. Menyediakan data untuk berbagai perhitungan seperti analisis fertilitas, mortalitas dan migrasi.
3. Menyediakan data yang bermanfaat untuk evaluasi pelaksanaan administrasi kependudukan dari data kejadian vital kelahiran, kematian dan perpindahan.
4. Menyediakan data untuk melihat fenomena mobilitas penduduk.
5. Memperbarui proyeksi penduduk yang telah disusun
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pendataan SUPAS 2015 tidak hanya mendata tentang kelahiran, kematian dan migrasi. Karakteristik penduduk lainnya juga didata, seperti Lansia, Kematian Ibu, Ketenagakerjaan, Fasilitas Perumahan, Migrasi Keluar Internasional, Perubahan Iklim dan Disabilitas. Selain itu, SUPAS 2015 akan menyajikan data kematian ibu yang lebih akurat. Sebab, pendataan kematian dilakukan dengan dua metode, yaitu metode langsung dan metode tidak langsung. Metode langsung, yaitu dari kematian yang terjadi pada rumah tangga sampel dan metode tidak langsung, yaitu dari kematian yang terjadi pada saudara dari responden perempuan.

Kecantikan Hidrogel

Selasa, Juni 16, 2015 0
Polimer buatan sejenis karet ini ternyata menyimpan sejuta kecantikan yang luar dalam. Hidrogel tidak larut dalam air namun dapat menyerap dan menyimpan air sebanyak 100-200 kali berat hidrogel itu sendiri. Hidrogel dapat berfungsi sebagai pengganti media tanah pada tanaman karena memiliki persediaan air dan nutrisi untuk tanaman. Daya tarik hidrogel juga begitu memikat karena tersedia berbagai warna seperti kristal yang memantul. Warna dan bentuk akan tahan dan tidak memudar rata-rata selama dua tahun. Tanaman yang cocok untuk media tanam ini adalah batang atau pohon yang tidak berkayu, tahan terhadap kadar kelembapan yang tinggi, umumnya tidak berbuah dan berbunga dan tidak memerlukan banyak sinar matahari. Setiap 4-5 hari sekali perlu disiram air kembali untuk mempertahankan kadar air dalam hidrogel sehingga tidak menyusut.